Tugas utama seorang tester adalah memastikan proses psikotes berjalan dengan tertib sehingga setiap peserta dapat terukur potensinya sesuai dengan tujuan tes dilaksanakan, oleh karenanya ia juga membutuhkan sikap kerjasama yang positif dari para peserta. Hal ini terutama apabila ia mendapati ruangan atau alat tes yang kurang memadai/nyaman sehingga ia seringkali tidak lupa untuk memotivasi peserta agar bersemangat untuk memberikan hasil terbaiknya, untuk mendukung pernyataan ini ia mengatakan “Aku kurang respek dengan peserta tes yang sok tahu dengan soal yang akan mereka hadapi, entah karena memang sudah pernah mengerjakan tes yang sama atau karena mereka menggampangkan. Agak jengkel juga dengan peserta psikotes yang menjadi biang keramaian di ruangan, hal ini bisa membuat peserta lain jadi tidak konsentrasi dalam mengerjakan.”  Selain mengganggu konsentrasi peserta itu sendiri, hal-hal seperti ini juga akan membawa dampak negatif, misalnya waktu tes menjadi lebih lama dari yang seharusnya dan peserta menjadi kurang optimal dalam menyelesaikan tugasnya.

Di akhir wawancara, ibu Milka memberikan beberapa saran agar kita dapat mengikuti tahapan psikotes dengan optimal, “Semalam sebelum pelaksanaan psikotes istirahat cukup, sarapan cukup, dan berdoa. Datanglah kira-kira 10-15 menit sebelum waktu yang ditentukan, sehingga konsentrasi dan pikiran lebih tenang, karena masih ada jeda waktu sebelum tes mulai. Bila ada kesempatan untuk ke toilet atau ada kesempatan bertanya tentang hal yang belum dipahami, pergunakan itu. Selalu dengarkan hal-hal yang disampaikan oleh tester karena terkadang tester hanya mau menyampaikannya satu kali. Persiapkan alat tulis yang sudah disyaratkan (bila diminta membawa pensil HB, bawalah pensil HB, bukan 2B atau tipe yang lain, apalagi bila instruksi itu sudah diulang); bawalah cadangan karena tidak semua penyelenggara tes berbaik hati meminjamkan alat tulis.  Persiapan wawancara kurang lebih sama dengan persiapan psikotes. Santai/relax saja dalam menjawab setiap pertanyaan. Tidak perlu melebih-lebihkan jawaba, tetapi sesuai dengan pengalaman yang sebenarnya.”

Nah, sekarang kita sudah mengetahui kan bahwa dibutuhkan kerjasama yang baik dari tester maupun peserta tes untuk mendapatkan situasi psikotes yang efektif. Mari bersikap koperatif!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here