Pada pelaksanaan psikotes ada seorang yang biasanya akan memberikan instruksi mengenai hal-hal yang sebaiknya dilakukan yang disebut tester sedangkan yang biasanya di bagian pengawasan atau membantu pendistribusian alat tes disebut sebagai co-tester. Kali ini tim Soulantern mewawancarai seorang tester agar kita sekalian bisa mendapatkan sudut pandang dari seseorang yang ada di ‘depan’. Sudah 8 tahun ini, Ibu Milka Mangesti, S.Psi. menggeluti dunia rekrutmen yang melibatkan tahapan psikotes mulai dari tes tertulis, wawancara, diskusi kelompok, sampai tahapan akhir dimana dinamika seorang peserta tes terbentuk melalui sebuah laporan psikologis.

Bagi ibu Milka, meskipun sudah lama menggeluti bidang ini ia tetap membutuhkan persiapan pribadi karena “kejadian selama menjadi tester di instansi mana pun itu menarik, saya seringkali menjumpai keunikan, baik dari rekan kerja, alat tes, bahkan peserta tes. Dari sisi rekan kerja, ada yang sangat detil dengan semua proses psikotes namun ada juga yang lebih santai dan terkesan menggampangkan. Alat-alat tes  sudah pasti berbeda di tiap instansi dan perbedaan ini yang malah memperkaya perbendaharaan alat tes. Ekspresi dari para peserta tes pun dapat menjadi “hiburan” di sela-sela tugas sebagai tester, ada yang sudah pernah mengikuti psikotes, ada pula yang belum pernah sama sekali”.

 Tidak hanya peserta saja yang mengalami hambatan untuk pelaksanaan psikotes, bahkan testerpun mengalaminya loh, menurutnya “Kesulitan yang biasanya muncul berhubungan dengan manajemen ruangan, baik psikotes klasikal (yang melibatkan banyak peserta. Red) perusahaan maupun sekolah. Adanya kekhawatiran sounsystem tidak sampai ke deret paling belakang sehingga instruksi terhambat, jarak antar kursi/meja yang sempit bisa membuat kesulitan untuk mengecek kelengkapan pekerjaan dari masing-masing peserta tes, serta adanya kemungkinan kelas ramai (terutama psikotes yang melibatkan usia sekolah) sehingga sulit dikendalikan.”

Untuk mengatasi hambatan yang mungkin muncul, seorang tester juga membutuhkan persiapan, hal ini perlu agar peserta dapat menjalankan rangkaian tes secara optimal, ia juga menambahkan “Aku senang bila menemui peserta psikotes yang kooperatif mengerjakan soal psikotes dengan jujur dan tepat waktu, tidak cheating serta ribut lebih aku sukai. Karena hal itu akan membantu proses psikotes berjalan lebih lancar. Ruangan dan lingkungan di luar ruang yang representatif juga penting karena bisa mempengaruhi hasil psikotes itu sendiri. Alat tes juga harus dipastikan lengkap sebelum menuju ke ruang tes, tidak boleh ada yang ketinggalan karena akan mempengaruhi motivasi peserta dalam menjalani prosesnya juga.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here