Seringkali kita mendengar “aduh stres aku”, “dia sedang stres, tidak bisa diganggu” atau kalimat-kalimat sejenis yang mengandung unsur “stres”. Tampaknya negatif dan meyusahkan ya si stres ini. Stres muncul akibat adanya tekanan atau kelelahan dalam diri individu yang ditimbulkan dari berbagai situasi kehidupan terutama apabila ada gap/jarak yang terlalu jauh antara harapan dengan realita yang didapatkan. Stres atau tekanan tidak selamanya berdampak negatif karena dalam menjalankan keseharian kita membutuhkan juga tekanan untuk mendapatkan tantangan dan mendorong diri mencapai hasil terbaik atau mencoba hal-hal yang baru untuk meningkatkan kualitas hidup  kita.

Dampak positif stres dapat kita raih apabila kita mampu mengekspresikan perasaan dengan cara yang tepat sehingga didapatkan pula respon yang positif dari lingkungan dalam mendukung keberadaan kita menyelesaikan tanggungjawab yang ada. Cara yang tepat juga meliputi kesadaran terhadap situasi yang terjadi, pihak yang dihadapi dan pengenalan emosi yang ada agar tindakan yang diambil tidak hanya berdasarkan emosi sesaat saja. Selain itu kita sebaiknya memilih tugas maupun kegiatan yang sesuai dengan kelebihan dan kelemahan yang ada di dalam diri. Hal ini penting disadari agar kita mampu realistis dalam menaruh harapan atau pada saat menerima suatu tanggungjawab.

Hal sederhana sebagai langkah awal yang dapat kita lakukan apabila ternyata tekanan yang kita hadapi mulai tidak bisa kita tangani seorang diri adalah dengan :

  • Mengenali sifat kita terhadap respon yang diberikan oleh lingkungan, misalnya apakah kita pencemas, mudah bereaksi spontan, mudah membuat keputusan atau sebaliknya, mudah berkata iya sehingga semua tugas diterima dan kerepotan nanti akhirnya, mudah curiga, takut bertindak dan sifat-sifat yang cenderung membawa kita sulit melihat tekanan sebagai hal yang membangun tetapi malah melemahkan potensi diri kita.
  • Mengenali penyebab stres dengan jujur pada diri sendiri karena mengetahui penyebab yang tepat maka tindakan penyelesaian yang tepatpun akan dapat dilakukan.
  • Mengakui adanya keberadaan stres tersebut dengan tidak mengingkari misalnya dengan mengatakan ‘baik-baik saja’ atau ‘hanya perasaanku saja’ atau ‘begitu saja tidak bisa’ atau bahkan ‘dasar aku ini lemah’. Anggapan-anggapan ini kecenderungan akan semakin melemahkan energi dalam diri yang sebenarnya butuh dicharge dan ditingkatkan.
  • Berani terbuka dengan pihak lain yang kita anggap kompeten/mengetahui permasalahan kita sehingga mendapatkan masukan atau bahan pemikiran yang berbeda yang dapat memperkaya sudut pandang kita terhadap hal yang menjadi sumber stres kita tersebut.

Jadi, berani menerima tekanan (stres) itu baik, lakukan dengan bijak!

2 COMMENTS

  1. iya bener sekali, pengalaman ketika test di jakarta, aduh mak naik Motor Cb buat ikt test psikolog, ew di jalan macet total jalan nya panik keburu test mulai tapi masih setengah perjalanan..

    saya setuju dengan tulisan penulis tentang ini

    “Mengakui adanya keberadaan stres tersebut dengan tidak mengingkari misalnya dengan mengatakan ‘baik-baik saja’ atau ‘hanya perasaanku saja’ atau ‘begitu saja tidak bisa’ atau bahkan ‘dasar aku ini lemah’. Anggapan-anggapan ini kecenderungan akan semakin melemahkan energi dalam diri yang sebenarnya butuh”

    • Hai CB, terimakasih ya untuk sharingnya, mungkin kapan-kapan bisa di share lagi bagaimana caramu mengatasi kepanikanmu 🙂
      Memang ya kemacetan Jakarta harus jadi acuan untuk berangkat lebih awal.
      Tetap semangat berbagi yaa, mari tingkatkan energi yang semakin menguatkan diri!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here