Kali ini tim Soulantern berhasil mewawancarai seorang wanita muda yang memiliki semangat tinggi dalam memenuhi potensi dirinya, yaitu Enggar Harjanti untuk berbagi cerita mengenai pergumulannya menjadi salah satu pengajar di gerakan Indonesia Mengajar angkatan 7 yang kemudian ditempatkan di Labuha, Halmahera Selatan-Maluku. Hal yang menyenangkan bukan dan sangat membanggakan terpilih dari sekian banyak anak Bangsa yang merindukan untuk berbagi dengan jiwa-jiwa muda di pelosok negeri. Namun, bagi Enggar sendiri pilihan ini dirasa cukup membuatnya terombang-ambing di awal saat ia memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti seleksi IM dikarenakan pada saat yang bersamaan ia sudah memasuki tahapan penulisan tesis dan apabila lulus dalam target yang ditentukan, tentu saja ia akan mendapatkan predikat cum laude dan sah menjadi seorang psikolog.

SL : Apa saja yang membuatmu tergerak atau berani  memutuskan untuk melamar di IM sementara dirimu juga diharapkan lulus tepat waktu?

Enggar : Pertama, mungkin karena aku punya kerinduan untuk dapat berbagi hidup dengan orang lain, ucapan syukur dengan semua hal yang sudah ku nikmati sepanjang hidupku sebagai “perpuluhan” (persembahan atau zakat) seluruh usia dalam hidupku.

Kedua, aku terpikir bahwa hanya orang-orang yang berani keluar dari “kotak”nya yang mau ikut Gerakan Indonesia Mengajar. Nah, dari situ, aku menantang diriku sendiri untuk ikut.

Ketiga, aku memang suka anak-anak ya, jadi aku sendiri ingin menguji kecintaanku kepada anak-anak J Menguji passionku.

Keempat, bagiku, Gerakan Indonesia Mengajar mempunyai visi yang sama denganku. Mengembangkan orang lain. Nah, aku mengenal Gerakan Indonesia Mengajar pertama kali di tahun 2010. Sementara, aku lulus S1 tahun 2011. Saat itu sebenarnya sudah mencoba untuk minta izin kepada orang tuaku. Jawabannya? Tentu ditolak! Haha. Ya, jadi dari tahun 2011 hingga 2013 ini, aku mencoba mengubur keinginanku untuk bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar, tetapi aku berusaha untuk membuka diri selebar-lebarnya dengan mengikuti banyak organisasi atau kerja kontrak yang seringkali membuat aku harus bekerja bersama banyak orang dan di tempat-tempat baru.

SL : Wah, ternyata cukup lama juga ya prosesnya? Dan memang hal ini sesuai dengan passionmu ya?

E : Betul sekali. Kemudian di pertengahan tahun 2013, muncul pikiran lagi untuk bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Aku rasa, itu sebuah panggilan ulang ya J dan ketika aku komunikasikan kepada orang tuaku, ternyata mereka sudah jauh lebih siap, dengan syarat aku lulus Magister Psikologi Profesi. Kurasa selama 2 tahun ini, semua bersiap-siap. Tuhan menyiapkanku, menjadi jauh lebih matang, orang tuaku menjadi jauh lebih mengerti, paham dan mau melepasku. Dan selama aku berada di pelatihan intensif, semangatku dikuatkan. Ada motivasi cinta tanah air yang mulai muncul. Sebelumnya, predikat WNI hanya seperti lekatan tak bermakna. Tapi aku belajar, dan menjadi sedikit berbeda.

SL : Adakah kegiatan atau hal-hal yang kamu lakukan untuk tetap mengelola perkuliahan yang ditinggal?

E : Sebenarnya sampai sekarang aku tidak lepas dari tesisku. Aku masih mengurus supaya cuti diperpanjang. Aku memantain hubungan dengan teman kuliahku yang baik hati memberi tahu tentang perkembangan tema tesisku, disini aku juga mencari tema yang benar-benar membuatku semangat dalam mengerjakan sekembalinya aku dari program ini ke dunia perkuliahan

SL : Saran buat mereka yang memutuskan atau sedang galau mungkin untuk meninggalkan perkuliahan/karier demi pengembangan diri di ranah lain?

E : Jangan hanya berkaca pada kelulusanku di Magister Psikologi Profesi yang tidak tepat waktu itu ya. FYI, waktu S1 aku ikut banyak kegiatan yang mengasah penerapan ilmu psikologi, tapi akhirnya aku menyadari bahwa hidup itu lebih luas dari sekedar lulus-kerja-menikah. 10 tahun yang akan datang, orang akan lupa apakah aku lulus tepat waktu atau tidak, tetapi seumur hidupku, aku akan membawa kenangan bahwa aku pernah 1 tahun hidup di pelosok negeri, menjadi Pengajar Muda. Ketika aku dipanggil Tuhan dan aku sedang berada bersama anak-anak dalam kegiatan Gerakan Indonesia Mengajar, kurasa aku tidak akan pernah menyesal, aku memilih tempat dan hal yang tepat kan untuk mengakhiri hidup? Ini cuma 1 tahun, cumaaa sedikiiiittt J Seorang teman dulu pernah mengatakan kepadaku, selama masih muda, jangan pelit-pelit. Batas kuliah 5 tahun, tapi kesempatan menjadi Pengajar Muda, mungkin hanya sekali ini. Aku memutuskan mendahulukan mengambil tantangan ini. Kuliah lulus tepat waktu itu sebenarnya tugas utama. Kalau kita bisa menjaga keduanya berjalan bersamaan, tentu akan lebih baik. Tetapi kalau harus memilih satu hal, pilihlah dengan bijak.

Nah, demikian hasil wawancara Soulantern kali ini semoga ada hal-hal baik yang bisa menginspirasi kalian yang sedang dihadapkan pada pilihan yang sama-sama kalian sukai. Beberapa kesimpulan yang dapat diambil adalah pilih sesuai passion, nikmati prosesnya, libatkan Tuhan dan orang-orang yang sekiranya mendukung pribadi kalian (orang tua maupun sahabat), komitmen serta membuka diri untuk setiap kemungkinan yang akan terjadi. Selamat memperkaya diri!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here