Mungkin bagi sebagian besar sahabat SL setelah lulus baik dari perkuliahan atau dari suatu instansi tertentu dan kemudian berpindah ke tempat lain kemudian melupakan identitas yang melekat di diri kita di tempat sebelumnya. Identitas seperti apakah? Misalnya, kita lulusan universitas apa, dulu di posisi apa, pindahan dari perusahaan apa dan lain sebagainya. Terkadang beberapa perusahaan cukup berhati-hati apabila akan merekrut karyawan dari suatu universitas tertentu dikarenakan mereka memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dari alumni universitas ini. Entah itu karena mangkir, sikap kerja yang tidak efektif, perilaku yang kurang profesional, rentang waktu kerja yang singkat, kepribadian yang tidak bisa dikembangkan, semangat kerja yang kurnag kompetitif dan alasan lain yang membuat perusahaan memiliki ‘cap’ negatif terhadap lulusannya.

Atau seperti pengalaman ibu Zenitha dari PT. RPI Yogyakarta pada saat membawahi mahasiswa magang yang diberikan tugas dan tanggungjawab tertentu yang kemudian tidak dilaksanakan dengan baik (termasuk diantaranya kehadiran yang tidak tepat waktu, tidak menjalankan visitasi klien sesuai jadwal dan sikap kerja yang tidak empatik). Kemudian di akhir masa magang tentu saja nilai tidak keluar dan perusahaan mengirimkan evaluasi yang sebenarnya ke pihak kampus. Meskipun pihak kampus sudah meminta maaf dan berusaha menyelesaikan permasalahan, dalam hal ini perusahaan dirugikan baik dari segi waktu dan nama baik di hadapan klien. Permintaan maaf diterima, tetapi kampus tersebut akhirnya di black list yang artinya perusahaan tidak menerima mahasiswa magang dari kampus yang sama.

                Nah, bukan kita memang yang dirugikan, tetapi ada pihak lain yaitu rekan-rekan seangkatan atau sealmamater kita yang mungkin saja kualitasnya jauh lebih baik tetapi menderita kerugian hanya karena sikap yang kurang menyenangkan yang pernah menjadi jejak kelam kita di suatu tempat. Tidak enak bukan rasanya menutup jalan rejeki orang lain? Maka, yuk mari sejak saat ini mulai berperilaku efektif dan produktif dengan tetap mengingat ‘identitas’ diri kita yang lain yaitu almamater kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here