Diantara kita pasti pernah merasakan harus memilih antara dua hal (atau bahkan lebih) yang sama pentingnya dan sama ingin kita wujudkan. Namun, apa daya terbentur pada kenyataan baik itu mengenai domisili, keadaan ekonomi, waktu, tuntutan pekerjaan, tuntutan studi (termasuk skripsi/tesis) dan hal-hal lain yang mendesak pula untuk dilakukan sementara ada yang perlu kita kejar karena kesempatan belum tentu terulang lagi. Ada beberapa hal yang dapat membantu untuk memilih, antara lain :

Memilih sesuai passion

Menurut Rene Suhardono seorang Career Coach, passion bukanlah segala sesuatu yang kita kuasai, tetapi yang kita cintai. Menemukan passion merupakan hal yang gampang-gampang susah karena ia terdapat dalam diri kita sendiri. Pada saat kita memilih dan melakukan hal yang kita ‘cintai’ maka kita akan bersemangat dan berusaha sungguh-sungguh terhadap hal tersebut tanpa adanya paksaan dari luar diri kita.

Membuat daftar kelebihan dan kelemahan

Adanya daftar yang tertulis mengenai kelebihan dan kelemahan masing-masing pilihan yang tersedia akan membantu kita untuk menyadari secara realistis apakah memang suatu pilihan akan membawa kebaikan atau hanya sekedar ikut-ikutan trend atau bahkan hanya keinginan sesaat saja untuk melarikan diri dari tugas dan tanggungjawab tertentu. Misalnya ternyata kita menginginkan untuk keluar dari kuliah untuk bekerja bukan karena kita menginginkan pekerjaan tersebut melainkan untuk menghindari tugas-tugas perkuliahan yang menjemukan.

Menyadari peluang yang tersedia

Peluang ini biasanya berkaitan dengan waktu, terkadang ada pilihan yang harus dipilih karena waktunya mendesak dan sayang kalau di lewatkan. Nah, sebaiknya diseimbangkan apakah saat pilihan A diputuskan, seberapa besar pengaruh konsekuensinya terhadap kehidupan yang berkaitan dengan pilihan B. Semisal kita ingin memilih mengikuti magang di perusahaan yang kita impikan sementara di waktu yang sama kita juga mengejar untuk ujian di perkuliahan. Nah, diperhatikan jika waktu magang tidak mengganggu ujian (meskipun waktunya berdekatan) karena kita merasa mampu atau ternyata ujian diperkenankan di ambil di lain waktu, maka peluang kita untuk magang terbuka. Sementara apabila pilihan magang berimbas pada kualitas perkuliahan kita, maka sebaiknya dicari kemungkinan apakah magang bisa diundur atau ada kesempatan lainnya lagi.

Berdoa dan melibatkan pihak yang dirasa mumpuni serta mengenal potensi kita dengan baik

Berdoa membuat kita tenang dan tidak terburu-buru melibatkan emosi saat memutuskan sehingga pikiranpun menjadi cukup tenang. Sementara masukan dari pihak lain, baik itu orang tua, guru, imam, sahabat, dosen, atasan atau yang kita percaya dan benar mengenal kita dengan baik akan membuka wawasan terhadap suatu hal. Biasanya pihak lain akan dapat memberikan sudut pandang yang berbeda karena mereka tidak ada di dalam ‘kotak’ kita sehingga pemikiran-pemikiran kita menjadi lebih ‘kaya’.

Komitmen terhadap pilihan yang diambil

Sebaiknya pilihan adalah berdasarkan keinginan dan semangat pribadi kita sendiri. Hal ini dikarenakan setiap pilihan pasti disertai konsekuensi masing-masing. Apabila pilihan keluar dari diri kita sendiri tentu saja kita lebih siap dan seburuk apapun konsekuensi yang mungkin muncul kita akan lebih komit dan tetap ada semangat untuk menyelesaikan pilihan tersebut secara tuntas dan bertanggungjawab. Sebaliknya, apabila pilihan keluar dari pihak lain karena kita takut memilih, maka kecenderungan yang akan muncul adalah melempem di tengah jalan, menyalahkan orang lain, mengasihani diri sendiri dan kemudian adalah penyesalan terhadap waktu yang sudah berjalan yang tidak mungkin diputar kembali.

Kita bebas untuk memilih, tetapi kita tidak dapat bebas dari konsekuensi setiap pilihan yang kita ambil. Jadi, mari memilih dengan bijak demi pengembangan diri kita.

4 COMMENTS

  1. bagaimana untuk meyakinkan kita agar menerima keadaan tersebut, saya sejak kecil ingin berkerja menjadi seorang polisi namun apa daya saya selalu gagal saat mengikuti test. dan saat ini saya justru bekerja sebagai montir sepeda motor, tapi saya justru memiliki banyak penghargaan ketika saya menjadi montir sepeda motor karena prestasi saya dalam memperbaiki mesin motor cukup bagus. tapi dalam hati saya masih inggin menjadi polisi, walapun saat ini sudah di bilang cukup dan lebih namun hati kecil inggin menjadi polisi ambisi ini tidak ada habisnya. semakin lama saya memikirkan untuk menjadi polisi, karir saya justru semakin bagus dan sekarang saya di angkat menjadi kepala bengkel motor

    bagaimana saya harus menghadapi realita ini

    • Halo Bengkel Motor 🙂
      Sebenarnya dirimu termasuk bisa dan positif kok untuk menerima realita, karena dari pernyataanmu sekilas tercermin bahwa kamu bukan tipe yang ingkar dengan tetap menyadari peluang (–>bekerja sebagai montir, tidak hanya menyesali kegagalanmu saat menjalani tes kepolisian, banyak loh yang setelah gagal hanya merutuki nasib dan malah jalan di tempat menyalahkan keadaan); mengenal potensi (–>kamu sadar memiliki hubungan yang baik dengan mesin2 motor); komitmen terhadap pilihan (–> meskipun kamu kecewa tidak menjadi polisi kamu memacu dirimu utk jadi yg terbaik sampai saat ini).
      Mulai saja pelan-pelan fokus pada keberhasilanmu saat ini, termasuk pencapaian diangkat menjadi seorang kepala bengkel beserta prestasi lainnya…kalau kamu tidak mencintai yg kamu lakukan sekarang kemungkinan kamu akan minim prestasi loh, tapi buktinya kamu bersinar di bidang ini. Sadari rasa cinta terhadap profesimu sekecil apapun dan mulai kembangkan, karena disadari atau tidak rasa cinta itu akan mengembangkan potensi diri 🙂 *coba rasakan baik-baik ya
      Kemudian kamu tanyakan kembali ke dirimu (bisa minta tolong orang yang kamu percaya juga) apakah dengan menjadi polisi kamu akan berprestasi seperti sekarang? apakah keinginan menjadi polisi adalah dari dalam diri bukan sekedar keinginan untuk dihargai? hal-hal apa yang sekiranya membuatmu tidak lolos tes? dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang bisa membantumu kembali pada realita dan “bersahabat” dengannya.
      Kalau ternyata keinginan untuk menjadi polisi itu masih kuat, coba dialihkan sesuai dengan kompetensimu saat ini, misalnya menjadi mekanik yang berhubungan dengan mesin-mesin kendaraan kepolisian, menciptakan sesuatu yang berhubungan dengan ‘polisi’ sesuai idamanmu, membuat rancangan mesin atau kendaraan yang kamu rasa akan menjadi inovasi baru untuk membantu kepolisian, dsb yang bisa membuatmu tidak ‘menekan’ (merepress) ambisimu menjadi polisi kuat-kuat. Karena semakin kuat di tekan maka dia akan semakin membuatmu merasa keinginan itu adalah ‘tuan’ atas dirimu.
      Cobalah berdamai dengan keinginan itu dan buatlah dia menjadi motivasi terbaikmu, kamu sudah melakukannya sehingga berprestasi, jadi mari dipadukan dengan impian polisimu itu 🙂
      Semoga membantu ya penjelasan saya.
      Saya yakin kamu bisa, karena tidak banyak orang yang bisa menjadikan kegagalan menjadi ‘pecut’ untuk berprestasi, tetapi kamu adalah sedikit dari mereka yang bisa melakukannya 🙂

      • ya ampun, penjelasan nya sangat mantapp, makasih baget, nah sekarang yang menjadi polemik seperti ini,

        x: eh si dia (saya) uda dinas di mana? daftr polisi kan
        y: ahh engak kok, di ga keterima.

        itu sebagian kecil pandangan dari masyarakat.
        bagaimana menyikapinya

        bisa di bilang ada rasa malu untuk menerima ke adaan,
        kadang rasa bohong harus di timbulkan/diciptkan demi menjaga images, apalagi klw ketemu orang orang di masa lalu, tapi klw ketemu orang baru, ya lebih enakk, jujur pun ga masalah

        sekali lagi terimakasih, atas respon dan masukan nya

        • halo,
          (maaf slow respon ya karena ada tugas ke lapangan beberapa hari ini)
          untuk yang kali ini saya ngga akan jawab dulu ya ‘polemik’ kamu 🙂 tapi saya mau kasih pr alias pekerjaan rumah yang mungkin bisa dikerjakan saat kamu dalam waktu senggang dan kalau sudah dijawab boleh dikirimkan ke saya lagi.
          1. hal apa yang membuat kamu malu dengan kegagalan masuk tes polisi dan kenapa? (kalau ada lebih dari 1 hal, usahakan mendapatkan alasannya sesuai hal yg kamu rasakan ya)
          2. pandangan masyarakat seperti apa yang kamu rasa dan kamu pikir perlu kamu sikapi?
          3. ‘images’ apa yang ingin kamu jaga?
          4. orang dimasa lalu ini siapa? coba di list ya, mungkin apa yang pernah mereka lakukan/katakan padamu dan sekarang posisi mereka apa buatmu.
          5. buat daftar (minimal, berarti boleh lebih ya) 5 kelemahan dan 5 kelebihan yang kamu miliki menurut dirimu sendiri
          –5 dulu ya pe.er nya, silahkan dikerjakan dulu dan kita akan bahas selanjutnya–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here