Puri Agung Diserang

(Apa yang terjadi pada tubuh kita saat stres)

Menjadi manusia artinya mendapatkan kesempatan untuk menikmati pertumbuhan. Perubahan adalah salah satu sarana yang memfasilitasi pertumbuhan tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang namanya perubahan tidak selalu nyaman. Kita lalu menggunakan istilah “stress” untuk menggambarkan ketidaknyamanan itu. Nah, kali ini Soulantern akan menemani sobat semua untuk mengenali apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh kita ketika kita mengalami stres. Agar kita tidak lantas jadi stres karena belajar berbagai istilah dalam dunia per-stres-an, mari kita belajar dengan dongeng petualangan saja.

Kita umpamakan tubuh kita ini ibarat sebuah puri yang agung dan canggih. Keagungan puri ini ditandai dengan berbagai fasilitas yang membuat puri ini menjadi salah satu bagian dari keindahan dunia yang patut dipuji. Sebagai puri yang agung, pastinya ada banyak puri-puri lain yang tertarik. Ada yang tertarik mengadakan kerjasama atau sekedar ingin sekedar mengadakan kunjungan jalan-jalan. Tak dapat dipungkiri juga, sebagai puri yang agung terkadang malah mengundang iri. Akibatnya, ada juga yang malah ingin menduduki atau menghancurkan puri. Tapi tenang saja, puri ini sudah canggih. Ada mekanisme pertahanan otomatis yang sudah diinstal di puri ini.

“Alarm Berbunyi! Puri akan Diserang!!”

Nguing!nguing! nguing!

Alarm puri berbunyi. Raja Korteks memerintahkan jenderal Hipotalamus untuk mengambil tindakan.

“Disini Jenderal Hipotalamus! Harap semua pasukan bersiap untuk menerima perintah! Alarm tanda bahaya baru saja berbunyi! Siapkan segenap tenaga yang kita miliki!”, begitu kira-kira kesibukan yang terjadi pada tubuh kita ketika kita merasa stres. Hipotalamus, salah satu bagian otak kita akan segera memberi perintah agar tubuh kita segera bersiap-siap untuk menghadapi serangan. Bersiap untuk apa? Pilihannya ada dua. Flight atau Fight! Lari atau berjuang melawan. Keduanya sama-sama membutuhkan kewaspadaan.

Kewaspadaan ini dimaksudkan agar semua warga Puri siap menghadapi serangan. Ini bisa berarti kita siap untuk belari lebih cepat karena kejaran anjing, melompati pagar tinggi karena ada kerusuhan, atau bahkan menjadi kreatif mencari alternatif pekerjaan ketika tuntutan kebutuhan semakin meningkat. Tapi menghadapi serangan juga bisa berarti puri siap untuk bertarung menghalau singa yang akan menerkam, mengeluarkan ide-ide brilian untuk berargumentasi, atau bahkan untuk mengerjakan deadline kerjaan yang sudah ditagih.

Jenderal Hipotalamus membunyikan terompetSaraf Simpatis. Nada yang keluar menyebabkan berbagai pihak mempersiapkan diri menghadapi serangan. Terjadilah berbagai perubahan di puri ini. Para penabuh genderang di jantung menjadi semakin bersemangat memainkan irama rancak. Akibatnya, irama detak jantung menjadi cepat. Para Pasukan Merah – yaitu darah kita – akan mondar-mandir dengan cepat ke seluruh tubuh. Pasukan ini membawa stok oksigen untuk memberi energi bagi para otot-otot tubuh. Sebagai pasukan penjaga batas luar puri, dengan segera mereka akan menunjukkan sikap waspada. Ini ditandai dengan perubahan otot yang mulai menjadi keras, menjadi lebih pendek dan padat. Bayangkan saja ada sekumpulan pasukan kurcaci yang lalu mengambil posisi kuda-kuda, bersiap untuk menyerang. Kita sering mengatakan sedang ‘tegang’ kalau pasukan kurcaci otot ini sudah mulai waspada. Meningkatnya tegangan otot ini juga menandai meningkatnya kepekaan berbagai indera tubuh. Semua pasukan menjadi waspada dengan berbagai serangan yang mungkin akan muncul di detik-detik menegangkan ini. Bunyi terompet Saraf Simpatis juga menyebabkan bagian dapur adrenal medulla menghasilkan hormon adrenalin. Hormon inilah yang paling jago memasak. Ia sangat cekatan mengubah glukosa menjadi tambahan energi dalam waktu singkat. Gudang persediaan energi segera menjadi penuh dan siap digunakan. Jadi, ketika terompet Saraf Simpatis sedang dibunyikan, sistem pernapasan dan sistem pencernaan akan bekerja semakin cepat. Ini tandanya Puri akan siap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi selanjutnya.

Sementara itu, ditengah keributan terompet Saraf Simpatis, jenderal Hipotalamus memerintahkan dapur kelenjar Pituitary untuk segera meningkatkan fungsi metabolisme, yaitu menghasilkan hormon ACTH (adrenocorticothropic). Hormon ini selanjutnya yang memberi perintah bagian adrenal cortex untuk menghasilkan hormon kortisol. Ini adalah semacam ramuan pembius yang bertugas untuk menghilangkan rasa sakit dalam waktu singkat serta menghalangi masuknya zat asing ke dalam tubuh. Ibarat ramuan ampuh dukun Panoramix, kortisol ini semacam zat yang bisa membuat Asterix tidak merasakan sakit walaupun ditimpuk menhir raksasa (bersambung …).

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here