Seringkali sebuah organisasi (baik di bidang bisnis, pendidikan, maupun layanan yang lain) menggunakan suatu tes yang lebih dominan ke arah pemeriksaan aspek psikologis untuk keperluan seleksinya. Pemeriksaan psikologis ini kemudian dikenal dengan istilah psikotes. Tentu saja alat yang digunakan selama penyelenggaraan psikotes ini berlangsung sudah diuji terlebih dahulu validitas dan reliabilitasnya sehingga dapat tepat sasaran dan mengukur yang seharusnya diukur.

Ketakutan dan kecemasan saat akan mengikuti rangkaian psikotes seharusnya tidak terjadi karena psikotes sendiri tidak mengukur mengenai benar-salah dan sangat menghargai perbedaan individu. Perasaan negatif yang muncul saat berkenaan dengan psikotes ini akan muncul apabila individu memiliki keyakinan dan rasa percaya diri yang kurang kuat mengenai kapasitas dirinya. Oleh karena itu, sebaiknya sejak dini seseorang menyadari bahwa dirinya memang berbeda dengan orang lain dan akan mendapatkan hasil yang mendekati akurat apabila mengikuti setiap proses yang diinstruksikan dengan disertai usaha terbaiknya. Jangan sampai kemudian mengkambinghitamkan ’tidak lolos’ karena tidak mendapat nilai terbaik.

Dalam psikotes sendiri tidak ada istilah gagal ataupun nilai jelek. Apabila seseorang tidak lolos dari suatu proses psikotes adalah karena yang bersangkutan tidak memenuhi kualifikasi atau kompetensi yang menjadi standar minimal yang diharapkan oleh penyelenggara psikotes tersebut. Tidak memenuhi kualifikasi sendiri tidak diartikan lebih rendah atau di bawah batas saja. Bisa saja seseorang memiliki kualifikasi yang melebihi batasan yang diharapkan. Misalnya seseorang memiliki potensi memimpin yang baik untuk dikembangkan sedangkan posisi yang diinginkan cenderung bergerak di bidang yang monoton, tidak memerlukan aspek kepemimpinan serta berada di level masuk sebagai staf padahal ia memiliki potensi minimal sebagai supervisor. Hal ini tentu saja akan membuat ia tidak akan berkembang secara optimal dan tidak akan bertahan lama di posisi tersebut apabila dipaksakan.

Berdasarkan hal tersebut dimana psikotes dapat mencerminkan potensi yang dimiliki seseorang baik di masa sekarang maupun dimasa yang akan datang, maka sebaiknya pelaksanaan psikotes dilakukan sejujur dan semandiri mungkin. Bukan hal yang salah mencari-cari info mengenai psikotes, tetapi akan merupakan kerugian yang besar apabila ‘mencontek’ jawaban-jawaban yang saat ini banyak tersebar baik di internet maupun secara stensilan. Karena apabila hasil ‘contekan’ ternyata tidak mencerminkan diri yang sebenarnya, tentu saja kesempatan yang yang mungkin saja positif akan terlewatkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here